Posted by: rumahdoalampung | May 17, 2009

Berharganya Sebuah Berlian

Bright Diamond

Bright Diamond

Pernahkah Anda memiliki sebuah berlian, atau paling tidak Anda pernah melihatnya, atau pernah dengar tentang keindahan sebuah berlian. Tidak pernah kita temui sebuah berlian hanya terdiri dari satu sisi. Sebuah berlian pasti terdiri dari banyak sisi.

Ada satu yang menentukan kualitas sebuah berlian yang perlu kita renungkan dalam-dalam, selain keasliannya dan karatnya, yaitu bersinarnya sisi-sisi berlian tersebut. Katakanlah sang berlian mempunyai 20 sisi, tetapi kalau satu saja sisi tersebut tidak cemerlang maka nilai berlian itu akan sangat turun sekali (biasanya dikatakan berlian buta). Sebuah berlian dikatakan bernilai, dan sangat disukai orang, kalau semua sisinya cemerlang.

Dapatkah kita mengambil arti rohani dari sebuah tubuh yang ada di dalam dunia ini, yaitu tubuh dari Kristus sendiri. Tubuh itu tidak dapat bersinar kalau dia tidak memperoleh sinar dari Kepalanya, itu adalah keharusan, seperti juga berlian tidak dapat bersinar dari dirinya sendiri, tetapi memantulkan sinar yang datang kepadanya. Tetapi sinar dari Kepalanya, dapat saja tidak terpantul dengan baik karena salah satu sisinya tidak siap untuk memantulkan sinar itu untuk dapat menjadi berkat dan dilihat orang. Seperti juga sebuah sisi berlian tidak dapat memantulkan sinar yang datang kepadanya karena kondisi sisi yang buruk.

Tetapi ketidakbersinaran satu sisi berlian tidak akan ditanggung oleh sisi itu sendiri, melainkan harga dari berlian itu secara utuh akan sangat merosot. Tidak akan ada orang, yang tahu akan berlian, dan mempunyai uang untuk membeli, mau membeli sebuah berlian yang salah satu sisinya buta. Demikian juga tubuh Kristus yang satu sisinya tidak bersinar akan menyebabkan semua anggota tubuh menanggungnya. Kesaksian dan kecermelangan tubuh Kristus, tidak dicerminkan oleh hanya bersinarnya satu sisi saja, tetapi tubuh Kristus secara utuh semuanya bersinar pada sisinya masing-masing. Sungguh apabila ini terjadi, dunia akan terperangah dan iblis akan tidak dapat berbuat apa-apa. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berdoa supaya tubuhNya menjadi satu, satu dengan sesama tubuh, dan satu dengan Kepala, seperti Yesus sendiri satu dengan Bapa. (Yohanes 17)

Tubuh tidak punya nama, tetapi kepala punya nama. Anda dapat memotong kepala dari sebuah foto seseorang, dan cobalah bertanya kepada orang tubuh siapakah ini, tanpa menunjukkan kepada orang itu, kepala yang Anda potong. Pasti tidak akan ada yang tahu. Berbeda dengan tubuh, kepala tanpa tubuh tetap punya nama. Anda dapat menunjukkan potongan foto kepala tanpa tubuh dan bertanya ini siapa, orang pasti akan tahu, karena yang punya nama adalah kepala bukan tubuh.

Adakah Anda sebagai bagian dari tubuh Kristus merasa mempunyai nama, lebih dari Kepala. Baik dan benar lah kalau Anda merasa tidak punya nama, karena memang hanya Kepala yang punya nama. Oleh sebab itu mengapa kita tidak duduk untuk saling mengasihi, karena itu yang diinginkan oleh Kepala yang punya nama. Boleh saja kita saling menegur, boleh saja saling mengkoreksi, saling menasehati, tetapi bagaimanakah caranya kalau anda menegur atau mengoreksi calon pasangan kita, pada saat kita merasa kasih eros itu begitu menggebu-gebu. Kalau itu saja dapat kita lakukan, mengapa kita tidak dapat melakukannya terhadap sesama anggota yang kepada kita Yesus sudah memberikan kasih agape-Nya, dan kasih yang seperti itu juga menjadi standard kasih yang harus kita berikan juga kepada saudara-saudara kita. Pada kenyataannya kita diikat oleh satu ikatan suci dan kudus dan kasih Tuhan.

Saudara-saudara kita ada yang masih bayi, ada yang masih kanak-kanak, ada yang sudah remaja, dan ada yang sudah dewasa. Pada posisinya mereka memerlukan makanannya masing-masing. Kedewasaan rohani memang tidak ditentukan lama atau tidaknya seorang menjadi Kristen. Ada orang yang menjadi Kristen, tetapi tanpa mau menyediakan diri menjadi murid. Orang yang mau menjadi murid akan cepat belajar. Tetapi itu semua proses, semua akan melalui proses itu. Bahkan yang sudah dewasa pun terus belajar dan bertumbuh menuju kepada kesempurnaan sampai kita bertemu dengan Yesus. Kalau kita menyadari ini, dan tidak pernah lepas dari visi kesatuan tubuh yang sangat dirindukan oleh Sang Kepala, kalau kita berangkat melayani baik dalam bentuk tulisan ataupun lainnya dengan paradigma Yesus memandang gerejaNya secara utuh, maka pelayanan kita pasti menjadi sangat lain.

Adakah kasih di dalam hatimu, seperti kasih yang ada di dalam hati Sang Kepala.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: