Posted by: rumahdoalampung | February 27, 2010

REKONSILIASI, sebuah perenungan

Rekonsiliasi
(Pdt. Yunias Otniel)


Matius 18:19-20

19  Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga.

20  Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”

Berkumpul dan Sepakat

Dua tiga orang berkumpul dalam nama Tuhan, Tuhan hadir ditengah-tengah mereka. Luar biasa, ternyata persekutuan orang percaya dapat menghadirkan Tuhan ditengah-tengah mereka. Namun yang harus dicatat, Tuhan hadir tidak berarti pasti menjawab doa. Mengapa? Karena dibutuhkan kesepakatan lebih dahulu dari mereka yang berkumpul dalam nama Tuhan.

Disinilah letak persoalannya. Sebab banyak persekutuan dihadiri oleh orang-orang dengan kepentingan yang berbeda-beda. Bahkan ada persekutuan yang dihadiri oleh banyak orang namun disertai dengan perselisihan, iri hati, permusuhan, fitnah, dan sebagainya. Padahal setiap persekutuan pasti mengundang Tuhan hadir, dan Tuhan pasti hadir, hanya untuk menjawab doa? Nanti dulu, Tuhan lihat ada kesepakatan atau tidak?

Jadi kita lihat bukan hanya persoalan mau kumpulnya saja, namun juga mau sepakat jika kita ingin melihat doa-doa dijawab Tuhan.

Dapat dipahami, mengapa persoalan sepakat menjadi suatu hal yang sulit ditengah-tengah kita. Karena landasan untuk kesepakatan adalah hubungan yang kuat yang dibangun di atas dasar kasih. Sementara terlalu banyak luka dan persoalan dalam hubungan yang dialami oleh sesama anggota persekutuan. Disisi lain hati manusia terlalu “fragile” alias gampang remuk terhadap setiap benturan-benturan yang ditimbulkan oleh usaha membangun hubungan itu sendiri.

Pada saat hubungan masih dalam fase bulan madu, semua terasa indah dan mudah. Namun Ketika benturan terjadi, konflik tidak dapat dihindari, maka jangankan sepakat, untuk kumpul saja bukan lagi hal yang mudah. Hal ini tidak saja dialami oleh jemaat dalam persekutuan, tetapi juga dialami oleh antar Gereja, antar Pendeta, antar Majelis dan antar-antar lainnya. Secara pribadi saya sedih, prihatin, gundah gulana, setiap mengingat hal ini (dan saya yakin demikian pula hati Tuhan), karena “perang dingin” terjadi dengan sangat terbuka. Bahkan tidak jarang dipertontonkan dengan sangat sengit dimimbar-mimbar Gereja yang seharusnya menyuarakan suara kenabian.

Persoalan lainnya, karena paradigma yang salah tentang kesepakatan. Kita berpikir bahwa sepakat itu berarti satu warna, satu selera, satu kepentingan. Dalam konteks Gereja, kita pikir sepakat artinya satu visi, satu aliran, satu denominasi, satu ordo. Padahal kesepakatan justru diperlukan manakala kita menyadari perbedaan satu sama lainnya. Jika sudah satu selera tidak diperlukan lagi kesepakatan, karena secara alami sudah cocok. Bukankah dalam pernikahan hal ini menjadi jelas? Tidak ada pasutri yang 100% cocok, sebab pada kenyataannya, pasangan yang kita pilih secara sadar dan selektifpun memiliki perbedaan yang tidak jarang sangat tajam dengan kita. Itu sebabnya kita sepakat, “Baik dalam suka maupun duka, hanya maut yang memisahkan”. Kita mungkin tidak perlu sepakat jika selama pernikahan isinya hanya suka saja, persoalannya kan tidak demikian. Ada masanya Tuhan juga ijinkan ada duka dalam pernikahan, dan tentunya berpegang pada kesepakatan menjadi harga mati jika ingin mempertahankan pernikahan kita.

Ya benar, selama hubungan masih manis, kesepakatan mungkin mudah diucapkan, seperti halnya janji pernikahan pada masa bulan madu. Akan tetapi, jika sudah ada luka, kekecewaan, dusta, bahkan pengkhianatan dalam hubungan, dibutuhkan kasih karunia Tuhan dan komitmen untuk dapat pulih. Saya teringat satu ayat di Roma 12:18, “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!”. Termasuk jika kita adalah korban, yang dilukai, yang dikhianati, pemulihan hubungan bergantung pada kita!

Jika kita menginginkan rekonsiliasi dan hubungan yang kuat terjadi maka penting untuk belajar dari Tuhan Yesus, bagaimana Tuhan mengambil inisiatif pertama untuk datang memulihkan hubungan itu, walaupun sebenarnya Ia adalah “korban”.

Bisa Anda bayangkan, pada saat ayam Berkokok setelah untuk ketiga kalinya Simon Petrus menyangkal Yesus, Tuhan menoleh kearahnya dan mata Tuhan yang penuh kasih beradu dengan mata Petrus yang ketangkap basah, bagaimana perasaan Petrus saat itu? Rasa bersalah, malu, marah, benci, jijik dengan diri sendiri bercampur menjadi satu. Bahkan ia telah menjatuhkan hukuman atas dirinya sendiri, “Jangankan Tuhan, saya saja sudah tidak percaya lagi dengan diri sendiri”. Hari itu, Petrus merasakan sepertinya bumi berhenti berputar, pikirannya segera melayang di saat Tuhan memberikan peringatan kepadanya, bahwa ia akan menyangkalNya. Pula saat ia sesumbar, “Sekalipun semua tergoncang imannya, aku sekali-kali tidak”, ternyata…? Sejurus kemudian, ia menghilang dalam gelapnya malam, ia lari dari Tuhan, dan tidak berharap untuk ditemukan kembali. Sebuah tragedi si penjala manusia. Namun Tuhan baik, setelah bangkit dari kematian, Ia datang kepada yang mengkhianatiNya, Ia tahu rekonsiliasi tidak bergantung Petrus lagi, melainkan diriNya.

Yohanes 21:15-17 menjadi solusi terbesar atas tragedi seperti yang dilakoni Simon Petrus. Sulit dibayangkan, bagaimana seorang yang hancur seperti Petrus dapat dipulihkan hanya dalam satu sesi konseling (Gak pake lama lagi). Disini Tuhan Yesus menunjukkan bahwa Ia adalah Penasihat Ajaib seperti yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya. Bagaimana Tuhan melakukannya? Kita akan menggali prinsip-prinsip ilahi yang Tuhan kerjakan dalam rekonsiliasi bersama Petrus. Setelah itu, mari kita jadikan kebenaran ini sebagai prinsip dalam membangun hubungan yang kuat.

Membangun Hubungan Yang Kuat

Ayat 15: Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”

Sebenarnya ada perbedaan kata yang digunakan Petrus Ketika memberikan respon atas pertanyaan Tuhan Yesus. Kasih yang diharapkan Tuhan adalah Agape yang merupakan kasih tertinggi dalam urutan, karena Agape adalah kasih ilahi, kasih yang rela berkorban, yang suci tanpa pamrih, namun Petrus yang telah mendapatkan “pewahyuan” tentang dirinya tidak lagi sesumbar, kali ini ia tahu diri, ia baru saja menyangkal yang Maha Kudus, sesungguhnya ia belum memiliki Agape seperti yang Tuhan minta darinya, “Tuhan Engkau tahu, aku belum bisa berkorban bagiMu, aku belum punya Agape, sesungguhnya aku baru punya Phileo untukMu”.

Duuh.. sudah jatuh ketimpa tangga pula, kira-kira itu yang dirasakan Petrus. Mengapa tidak, ia belum lagi bisa memaafkan dirinya pasca penyangkalan di malam penangkapan itu. Sekarang ia tidak mampu memberi apa yang Tuhan minta darinya. Dengan perasaan bersalah yang dalam, ia sembunyikan wajahnya, ia tekuk tujuh mukanya ke bawah, ia tidak mampu menatap mata Tuhan yang pernah menangkap basah dirinya saat malam penyangkalan itu. Kali ini ia berpikir habis sudah dirinya, bahkan ia merasa layak untuk dijatuhi hukuman mati. Namun belum lagi habis perasaan yang berkecamuk di dalam dirinya, sekali ia dikejutkan dengan perkataan Tuhan, “Gembalakanlah domba-domba-Ku”. Petrus benar-benar tidak dapat mempercayai apa yang baru saja ia dengar. Dengan mata terbelalak, mulut setengah terbuka, ia berusaha yakin dengan apa yang didengarnya. Sebenarnya ia baru saja menerima Kasih Karunia.

Prinsip 1 : Kasih itu Percaya

Sampai disini saya belajar prinsip pertama rekonsiliasi serta hubungan yang kuat hanya akan terjadi apabila para pihak saling percaya satu sama lain. Selama ada perasaan curiga, kecewa, sakit hati, marah, iri hati, cemburu, mementingkan diri sendiri, hubungan tidak akan pernah sehat dan kuat.

Percaya tidak saja kepada pihak yang kita yakini memiliki integritas yang tinggi, sehingga layak dipercaya. Namun juga kepada pihak yang lemah, sebab kita selalu percaya bahwa ia bisa dan pasti berubah.

Saya punya keyakinan bahwa hukuman dan penjara tidak membuat orang menjadi lebih baik, walaupun itu perlu untuk menimbulkan efek jera. Namun hukuman saja tanpa kepercayaan dan harapan bahwa ia dapat berubah, tidak mengubah apa-apa, yang jahat bahkan akan bertambah jahat, yang maling ayam akan belajar jadi perampok bank, yang pemakai narkoba keluar malah jadi bandar narkoba. Yang diperlukan seseorang untuk berubah adalah kepercayaan, tidak hanya sekadar disiplin.

Hubungan hanya bisa dipulihkan jika para pihak atau minimal salah satu pihak, menghidupi prinsip mempercayai satu sama lain, seperti Tuhan mau mempercayai si penyangkal Tuhan. Sepertinya saat itu Tuhan “beriman” bahwa Petrus sudah berubah dan layak dipercaya. Kadang kita saja yang tidak memiliki Iman Kristus itu terhadap pasangan hidup kita, terhadap pemimpin kita, terhadap sesama Hamba Tuhan yang telah melukai kita. Padahal setiap waktu Tuhan beriman kepada mereka, bahwa mereka pasti bisa dan pasti berubah. Saat itu Petrus melihat bahwa Tuhan mengembalikan kepercayaan kepadanya. Ini merupakan titik awal pemulihan yang dirasakannya. Namun hal ini tidak berlangsung lama.

16  Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”

Bisa Anda bayangkan setelah ia merasa tersanjung karena kepercayaan yang dikembalikan padanya, untuk kedua kalinya pertanyaan yang sama Tuhan ajukan kepadanya, Tuhan minta Agape dari Petrus? Seperti orang yang diangkat lalu dibanting lagi. Sesaat Petrus merasa benar apa yang didengarnya adalah salah. Ia merasa memang tidak pantas untuk dipercaya lagi.

Dengan wajah yang Kembali ditekuk makin dalam, suaranya lirih dan bergetar ia menjawab “Tuhan Engkau tahu, aku belum punya Agape, aku baru punya Phileo”. Yang tidak dipahami Petrus, sebenarnya inilah cara Tuhan memulihkan dia. Pemulihan yang tuntas-tas-tas-tas. Ia harus sembuh total sebelum bisa melaksanakan tugas panggilannya lagi. Karena tidak boleh ada sisa perasaan tidak layak dan berdosa lagi yang masih membayanginya. Dan Tuhan kembali berkata, “It’s ok, Gembalakanlah domba-domba-Ku”. Kali ini ia yakin bahwa ia tidak salah dengar lagi. Ia memiliki keberanian bahkan melebihi yang pertama untuk mengangkat wajahnya, menatap mata Tuhan, matanya berkaca-kaca bahagia, terharu, berbunga-bunga, campur aduk jadi satu. Sekarang ia tahu bahwa ia bukan saja dipercaya tetapi ia juga diterima apa adanya.

Prinsip 2 : Penerimaan Total

Penerimaan total berarti tidak saja mau menerima seseorang karena kelebihan dan keunggulannya, tetapi juga mau menerima lengkap dengan kekurangan dan kelemahannya. Mencintai tidak saja kelebihannya, tetapi juga mencintai kekurangannya. Karena diuji dan terbukti, no bodies perfect. Tak ada gading yang tak retak. Jika kita hanya mau menerima seseorang selama menguntungkan, menyenangkan, membahagiakan, maka hubungan yang kita bangun adalah hubungan yang rapuh. Ketika semua kelemahan tersingkap, segera kita akhiri hubungan tersebut.

Tubuh Kristus tidak akan pernah dibangun dengan kuat jika tidak ada komitmen penerimaan total seorang dengan lainnya. Disadari atau tidak inilah akar permasalahan selama ini mengapa Gereja sulit bersatu. Tidak ada penerimaan total. Kita hanya mau berhubungan dengan yang kita anggap menguntungkan kita, atau minimal sama-sama diuntungkan. Yang besar sulit menerima yang kecil. Yang kaya memandang sebelah mata yang miskin, bahkan pendeta-pendeta yang dianggap kecil seringkali hanya diterima oleh satpam Gereja, maaf. Memang pada kenyataannya, yang kecil dan miskin selalu merepotkan bahkan menyusahkan saja, jadi beban yang tidak habis-habisnya, namun tetap saja mereka bagian dari tubuh Kristus yang melekat jadi satu dengan sang Kepala. Dan Tuhan menghormati mereka dengan penghormatan khusus dibandingkan dengan yang merasa besar, penting, kaya dan hebat. Oh ya? Ya.. masakan lupa dengan 1 Korintus 12:22-26.

Penerimaan total tanpa syarat menjadi harga mati kedua terjadinya rekonsiliasi dan hubungan yang kuat. Dan tidak berhenti disini. Tuhan melanjutkan proses pemulihan dengan sangat cemerlang.

17  Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.

Prinsip 3 : Bersedia Turunkan Standar

Anda tahu kata yang Tuhan gunakan kali ketiga? Tidak sama dengan yang pertama dan kedua, kali ini Tuhan bertanya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau Phileo kepada-Ku?”. Luar biasa, Tuhan bersedia turunkan standar, Ia mau berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan muridNya yang dikasihi.

Ah, andaikan semua anggota tubuh Kristus menghidupi kebenaran ini, Surga sudah hadir di bumi. Andaikan yang cepat mau turunkan speednya menunggu yang masih lemot, yang kuat menopang yang lemah, yang kaya memberkati yang miskin, yang besar mengangkat yang kecil, yang senior jadi bapa bagi junior. Maka… jangan berandai-andai saja pliz. Kerjakan untuk Tuhan, untuk kemuliaanNya.

Simon Petrus tidak dapat menahan dirinya lagi, tangisnya memecah kebekuan hubungan yang dirasakannya selama ini. Ia menangis terharu, ia tahu tidak ditinggalkan sendiri, ada Tangan yang kuat menopang dia untuk bangkit dari keterpurukan, ada Tuhan disampingnya bukan di atas sana dalam ketinggian yang tak terhampiri. Ia sembuh total!

Saya mendengar banyak keluhan dan ketakberdayaan, baik langsung maupun tidak langsung, dari anak-anak rohani yang didisiplin oleh bapanya, namun tidak didampingi dalam prosesnya. Bahkan setelah itu sang pemimpin sudah tidak pernah mau jumpa dengannya lagi, seperti layaknya seorang yang kena kusta, dibuang dan dikucilkan. Sebagian bisa bangkit kembali, sebagian lagi terhilang selamanya. Untung Tuhan bukan manusia, Ia tidak meminta untuk dimengerti dahulu, karena memang Ia terlalu tinggi untuk dimengerti. Ia di atas, kita di bawah. Hanya yang pernah dari atas yang mengerti jalan ke atas. Dengan kasih dan kesabaran Ia bersedia turun, berada diposisi yang lemah dan tidak berdaya. Lalu dari sana Ia menjalan bersama-sama, naik ke atas, sampai apa yang Ia harapkan dimiliki oleh yang dikasihiNya.

Dalam hatinya, Petrus berjanji, “One day.. Suatu hari nanti, aku akan berikan apa yang Tuhan harapkan.” Dan benar, sejarah martir mencatat Petrus berkorban (Agape) demi Injil. Ia disalib terbalik, kepala di bawah, kaki di atas.

Dicari (WANTED) pemimpin yang punya hati bapa.

Andakah orangnya?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: